Transformasi Desa Wisata Bilebante
Peran Gaya Kepemimpinan Transformatif Dalam Pengembangan Pariwisata
DOI:
https://doi.org/10.66151/jurnalpradah.v2i2.16Keywords:
kepemimpinan transformatif, desa wisata, Community Based Tourism, pemberdayaan masyarakat, pembangunan berkelanjutanAbstract
Studi ini menyelidiki dinamika kepemimpinan transformasional dalam konteks pengembangan Desa Wisata Bilebante di Lombok Tengah, yang berhasil mengembangkan model Pariwisata Berbasis Komunitas (Community Based Tourism/CBT) yang berkelanjutan. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif studi kasus, data dikumpulkan selama enam bulan melalui wawancara mendalam dengan pemimpin formal dan informal, observasi partisipatif terhadap kegiatan Pokdarwis, dan analisis dokumen sekunder yang relevan. Studi ini menemukan bahwa keberhasilan Bilebante merupakan hasil dari penerapan kepemimpinan transformasional yang ditandai oleh empat dimensi: (1) pengaruh ideal yang ditunjukkan dengan memimpin melalui contoh dengan menolak segala bentuk gratifikasi dan menjaga integritas yang kuat; (2) motivasi inspiratif dengan merumuskan visi "desa hijau" yang berhasil memupuk semangat kolektif; (3) stimulasi intelektual dengan menyediakan ruang aman untuk eksperimen dan diskusi inovatif seputar pariwisata; dan (4) perhatian individual melalui pembimbingan, serta anggota komunitas memiliki Rencana Pengembangan Individu. Analisis empiris memberikan bukti bahwa kepemimpinan transformasional berfungsi sebagai pusat fokus dari penyesuaian potensi lokal dengan prinsip-prinsip CBT di mana para pemimpin bergerak melampaui fungsi administratif semata dan berpartisipasi sebagai fasilitator perubahan sosial. Manifestasi dari kepemimpinan ini adalah peningkatan partisipasi masyarakat di semua tingkat dalam siklus pengembangan pariwisata mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan program. Dampak ekonomi lokal dari partisipasi ini bersifat inklusif dengan 'ledakan homestay' di mana jumlah unit operasional meningkat dari 5 menjadi 25, bisnis kecil dan mikro (UKM) baru muncul yang mendiversifikasi masakan lokal, dan pekerjaan baru diciptakan di sektor pariwisata. Selain manfaat ekonomi, studi ini menunjukkan penguatan kapasitas kelembagaan melalui pengaturan kolaboratif dari semua pemangku kepentingan. Namun demikian, studi ini mengidentifikasi beberapa tantangan implementasi, termasuk ketergantungan pada figur pemimpin kharismatik dan belum meratanya partisipasi di seluruh lapisan masyarakat. Temuan ini mengarah pada rekomendasi pentingnya institusionalisasi nilai-nilai transformatif melalui penguatan kelembagaan desa dan pengembangan sistem kaderisasi pemimpin. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dalam memahami mekanisme kepemimpinan transformatif di tingkat akar rumput, sekaligus menawarkan kerangka praktis bagi pengembangan desa wisata lainnya. Implikasi kebijakan yang dihasilkan menekankan perlunya program pelatihan kepemimpinan yang kontekstual dan berkelanjutan, serta integrasi nilai-nilai transformatif dalam perencanaan pembangunan pariwisata berbasis komunitas.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Ardy Muhammad Fauzan; Suci Emilia Fitri

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

